Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

Ini Dia! Mahluk dengan Gigitan Terkuat Sepanjang Sejarah

Ini Dia! Mahluk dengan Gigitan Terkuat Sepanjang Sejarah

Mahluk apa paling berbahaya saat menggigigit? Buaya? Anjing Pitbull? Atau Hiu? Semua itu ternyata belum sebanding dengan gigitan seekor: T.Rex!

foto: chinashopmag
Penelitian para ilmuwan baru-baru ini menemukan dahsyatnya gigitan Tyrannosaurus rex, dan telah dipublikasikan dalam jurnal Biology Letters.

Dr. Karl Bates dari laboratorium biomekanik, University of Liverpool yang memimpin penelitian bersama koleganya, Peter Falkingham dari University of Manchester. Mereka menggunakan metode penelitian dengan cara simulasi digital.

foto: bbc.co.uk


"Kami men-digitalkan tengkorak dengan scanner laser, sehingga kami memiliki model 3-D susnan tengkorak ke dalam komputer," jelas Dr. Bates seraya menambahkan, "dengan cara itu, kami bisa memetakan pergerakan otot tengkorak T.Rex."
Foto: badassoftheweek.com (atas) - dsc.discovery.com (bawah)


Hasilnya?


"Kami menemukan tekanan maksimum gigitan seekor T.Rex adalah antara 30.000 dan 60.000 Newton," urainya lebih lanjut.

[Catatan: Sebelumnya, para peneliti memperkirakan kekuatan gigitan T.Rex hanya 8.000 - 13.000 Newton. Berarti terdapat perkembangan yang signifikan dengan temuan baru ini].

Gajah di Pangkuan


"Itu setara dengan seekor gajah berukuran sedang duduk pada Anda," ucap Dr. Bates lagi. Ya, coba bayangkan cengkeraman gigi T.Rex saat menggigit sama halnya dengan kita tiba-tiba diduduki seekor gajah.
 foto: farm6-static-flickr.com

Hebatnya lagi, menurut Dr. Bates, kekuatan gigitan tersebut berubah seraya hewan ini bertumbuh (bertambah usia).

Maka, kesimpulan para peneliti tersebut adalah, "Hewan ini sangat ekstrem - salah satu karnivora terbesar yang pernah hidup."


Sumber: bbc.co.uk

Selasa, 07 Mei 2013

Nenek Moyang Buaya

Nenek Moyang Buaya

Para peneliti dari University of Missouri, Amerika Serikat, menemukan buaya prasejarah yang pernah hidup sekitar 90 juta tahun yang lalu.

Buaya yang dikenal dengan nama Shieldcroc adalah nenek moyang buaya modern.

 
"Aegisuchus witmeri atau Shieldcroc yang ditemukan di Afrika adalah nenek moyang paling awal dari buaya," kata Casey Holliday, Asisten Profesor Anatomi di University of Missouri School of Medicine, seperti dikutip dari Science Daily.

Ia mengatakan Shieldcroc adalah penemuan terbaru dari spesies buaya yang hidup di Cretaceous akhir.

Menurut Holliday, periode ini merupakan bagian dari era Mesozoic, yang  disebut sebagai zaman dinosaurus. Namun, banyak penemuan-penemuan terbaru yang  menyebut era tersebut sebagai zaman buaya.

Berdasarkan  analisis terhadap pembuluh darah jaringan parut pada tulang, buaya tersebut memiliki struktur menyerupai perisai di atas kepalanya. Bagian penyok dan benjolan pada tulang menunjukkan pembuluh darah mengirimkan darah pada gundukan kulit yang melingkar, sesuatu yang belum pernah ditemukan pada buaya.

 
Shieldcroc memiliki tengkorak lebih datar dibandingkan spesies buaya lainnya. Tengkorak datar ini membuat kepala Shieldcroc menjadi terlalu tipis untuk memudahkannya bergulat dengan dinosaurus.

Para peneliti menyatakan reptil kuno ini kemungkinan ahli menangkap ikan karena memiliki rahang tipis.

"Kami percaya Shieldcroc menggunakan wajah panjangnya sebagai alat perangkap ikan," kata peneliti Nick Gardner dari Marshall University.
 
"Buaya itu menunggu sampai ikan berenang di depannya tanpa curiga. Kemudian saat berada cukup dekat, Shieldcroc hanya membuka mulut dan langsung melahap ikan itu."

Holliday bersama Nick Gardner, rekan penelitiannya, mengatakan spesimen tersebut memiliki kepala sepanjang 1,5 meter dan panjang totalnya 9,1 meter.
 
[Apa Kabar Dunia pernah menulis tentang Sarcoshucus: Predator Amphibi Terbesar]




Sumber: nationalgeographic.co.id

Jumat, 03 Mei 2013

Kanibalisme India, Kekejaman Di balik Kemajuan Peradaban Kuno

Kanibalisme India, Kekejaman Di balik Kemajuan Peradaban Kuno

Berbagai penemuan peradaban kuno di India masih diselimuti misteri. Berbagai teori mengemuka, masyarakat Indus sebenarnya sudah sangat maju dibanding kondisi kita saat ini. Masih ingat artikel misteri teknologi india kuno tentang kemungkinan interaksi dengan mahluk planet lain? 

Namun, peradaban kuno bisa jadi tidak selamanya menempatkan hak individu setara antarmanusia. Perbudakan, bahkan kanibalisme merupakan sisi kelam warisan masa lalu.
 

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Paleopathology menunjukkan sisi kelam dari peradaban Indus. Masyarakat setempat diperkirakan sudah terbiasa dengan budaya kekerasan.

Hal ini berdasarkan pemeriksaan terhadap 18 tengkorak manusia Indus yang tinggal di Harappa --salah satu pusat kota paling berpengaruh di Indus. Kerangka yang diteliti berasal dari tahun 1900 hingga 1700 Sebelum Masehi.

Salah satu tengkorak ini adalah anak-anak berusia antara empat hingga enam tahun, yang pecah dan hancur akibat benda seperti senjata. Satu tengkorak wanita dewasa juga memperlihatkan bekas pukulan hebat dengan kekuatan besar. Sedangkan satu tengkorak laki-laki paruh baya memiliki hidung patah dan rusak di bagian dahi yang disebabkan benda berujung tajam.

Dikatakan Gwen Robbins Schug sebagai pelaku penelitian dari Appalachian State University, AS, penemuan ini menumbangkan mitos kehidupan penuh damai di Indus.

"Kekerasan merupakan bagian dari kehidupan di Harappa," kata Schug yang melakukan penelitian bersama mahasiswa pascasarjana, Kelsey Gray, dan Veena Mushrif-Tripathy dari Deccan College, India.

Studi yang menyimpulkan kedamaian di Indus akan terbit pada Mei 2013 mendatang dalam Journal of Archaeological Science. Dikatakan pemimpin penelitian jurnal ini, Mark Kenoyer, dari University of Wisconsin–Madison, AS, Harappa merupakan lokasi titik temu.

Banyak warga desa yang pindah menuju Harappa dan menjadi bukti pertama perpindahan manusia dari desa ke kota. Kenoyer dan koleganya berkesimpulan bahwa Harappa memiliki sistem di mana perempuan memiliki peran lebih kuat dari kaum lelakinya.


Sumber:
kompas

Minggu, 07 April 2013

Arkeolog Inggris Temukan Situs Nabi Ibrahim di Irak

Arkeolog Inggris Temukan Situs Nabi Ibrahim di Irak


BAGHDAD—Arkeolog Inggris melakukan penggalian sebuah komplek luas kota kuno di Irak Selatan, yang diyakini tempat tinggal Nabi Ibrahim. Struktur itu diperkirakan berusia sekitar 4.000 tahun,  sebagai pusat administratif untuk masyarakat sewaktu Nabi Ibrahim tinggal di sana sebelum akhirnya meninggalkan Kan"an.

"Senyawa ini ditemukan di dekat tempat rekonstruksi Ziggurat, atau candi Sumeria," kata Stuart Campbell Jurusan Arkeologi Universitas Manchester, yang memimpin penggalian kepada nationalpost.

Menurutnya, penemuan ini penting, karena ukurannya yang luar biasa besar, kira-kira seukuran lapangan sepakbola atau sekitar 80 meter di setiap sisi. Arkeolog itu mengatakan temuan kompleks seperti ini berdasarkan ukuran dan umur situsnya jarang terjadi.

"Tampaknya itu bangunan publik dan memiliki koneksi agama," lanjutnya.

Kompleks kamar di sekitar halaman besar ditemukan 20 kilometer dari ibukota terakhir Dinasti Kerajaan Sumeria peradaban yang berkembang 5.000 tahun lalu. Campbell mengatakan salah satu artefak mereka digali adalah sebuah plakat 9-sentimeter yang menampilkan seorang penyembah yang mengenakan jubah panjang, mendekati tempat suci.

Dari artefak yang ada, situs dapat mengungkapkan kondisi lingkungan dan ekonomi wilayah tersebut melalui analisis tanaman serta hewan yang pernah hidup pada masa itu.

Tim Campbell adalah arkeolog pertama yang memimpin British Archeologist melakukan penggalian arkeologi di Irak Selatan sejak tahun 80-an.  "Ini menjadi kesempatan untuk mendapatkan kembali daerah yang sangat dekat dengan hati kita untuk waktu lama karena adanya konflik dan peperangan," kata Campbell.

Irak menghadapi masalah serius untuk melindungi warisan arkeologinya. Dari 12 ribu situs arkeologi yang terdaftar banyak diantaranya tidak dilindungi.(esy/jpnn)
Sumber : jpnn.com

Kamis, 14 Maret 2013

Ternyata Kelinci Pembunuh Nenek Moyang Kita

Ternyata Kelinci Pembunuh Nenek Moyang Kita

John Fa, peneliti dari Durrell Wildlife Conservation Trust di Jersey, berdasarkan hasil penelitiannya mengklaim bahwa Neanderthals, moyang manusia, punah gara-gara kelinci. Bagaimana bisa?

Fa meneliti tulang belulang hewan yang ditemukan di tiga lokasi penggalian di Spanyol dan Perancis. Dia menemukan bahwa sekitar 30.000 tahun lalu, mamalia besar seperti rusa melimpah di gua. Namun, pada masa berikutnya, mamalia besar mulai jarang ditemui.

 
 Ilustrasi / petsugar.com

Fa berpendapat, kemampuan beradaptasi untuk berburu mamalia berukuran kecil memegang peranan penting dalam kesintasan spesies. Sementara manusia modern pintar beradaptasi, tak demikian halnya dengan Neanderthals.

"Ketergantungan yang tinggi pada perburuan dan konsumsi mamalia besar oleh kelompok kerabat manusia tertentu membatasi kesintasannya ketika mangsa pilihannya menjadi terbatas," papar Fa seperti dikutip Daily Mail.

Fa mengungkapkan, pada masa Neanderthals, jumlah kelinci melimpah. Namun, moyang manusia tersebut tidak mampu atau tidak mau memanfaatkannya. Hal tersebut berkontribusi pada punahnya Neanderthals.

"Analisis tulang yang ditemukan selama ekskavasi di Iberia menunjukkan bahwa kelompok kelinci adalah bagian diet penting dari spesies dengan anatomi manusia modern. Namun, hewan itu relatif tak digunakan selama masa Mousterian, ketika Neanderthals eksis," papar Fa.

Fa tak mengetahui dengan jelas mengapa Neanderthals tak bisa memanfaatkan kelinci. Menurut Fa, Neanderthals kurang memiliki taktik untuk menangkap hewan itu. Adapun manusia modern diduga tak memanfaatkan panah untuk berburu kelinci, tetapi menggunakan api, asap, dan anjing. 


Jumat, 01 Maret 2013

Penemuan Sepatu Zaman Mesir Kuno

Penemuan Sepatu Zaman Mesir Kuno

Penemuan sepatu zaman mesir kuno ditemukan di sebuah kuil Mesir di Luxor. Sepatu yang ditemukan itu dalam kondisi tersimpan di dalam botol. Para arkeolog yang menemukan sepatu itu menduga jika sepatu itu dipakai oleh anak-anak. Lantaran hanya berukuran 18 cm.

Penemuan Sepatu Zaman Mesir Kuno

Para arkeolog mengatakan sepatu ini merupakan peninggalan zaman mesir kuno pada dinasti raja keturunan Yunani. Analisis Veldmeijer menunjukkan bahwa sepatu ini kemungkinan buatan luar negeri (non-Mesir) dan harga relative mahal. Lantaran pada zaman itu, orang mesir lebih memilih sandal karena sepatu masih dianggap barang mewah.

Benda peninggalan bersejarah ini juga ada yang berukuran panjang 24 cm, yang dipakai oleh orang dewasa. Botol berisi sepatu ini ditemukan dengan dua botol lainnya, yang tampaknya sengaja ditempatkan di ruang kecil antara dua dinding bata. 

Sumber : nutrisijiwa.com