Tampilkan postingan dengan label orang tua dan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang tua dan anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Trampolin Berbahaya Bagi Anak-anak

Trampolin Berbahaya Bagi Anak-anak

Jurnal Harian - Hasil studi para dokter Amerika menemukan, mainan anak-anak trampolin berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya dapat menyebabkan cedera serius pada penggunanya.

Menurut The American Academy of Pediatrics (AAP), diperkirakan hampir 98 ribu orang terluka setiap tahun di Amerika Serikat  akibat permainan ini. Dan banyak di antaranya anak-anak. 
swissdreamshotels.com
Di Inggris sendiri para ahli kesehatan mengatakan mainan tersebut  semakin populer  dan seiring itu terjadi peningkatan kasus cedera. Tapi mereka mengatakan trampolin sebenarnya dapat menjadi cara untuk sehat dan berolahraga yang menyenangkan.

Menurut BBC (25/9), Dr Michele LaBotz, penulis laporan tersebut mengatakan, bahwa cedera paling banyak terjadi ketika lebih dari satu orang pada trampolin. Anak balita lebih mungkin untuk menderita cedera serius. Bahkan 48 persen dari cedera ini berupa patah tulang dan dislokasi. Beberapa luka bahkan mungkin berakibat fatal dan sering menyebabkan cedera tulang belakang leher, yang berakibat pada konsekuensi permanen.

Royal Society Inggris sendiri menyarankan untuk menikmati mainan tersebut secara aman. Misalnya, menempatkan trampolin pada permukaan lembut seperti rumput ketimbang beton dan mempertimbangkan menggunakan jaring pengaman.
Sumber : jpnn.com

Sabtu, 26 Januari 2013

Tips Mendorong Perkembangan Bahasa Anak

Tips Mendorong Perkembangan Bahasa Anak


Jurnal Harian - Orang tua dan wali dapat menggunakan berbagai strategi untuk mendorong perkembangan bahasa anak-anak. Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mendorong perkembangan bahasa anak :
 
Berbicara dengan anak, bahkan sebelum anak dapat berbicara penting untuk orang dewasa dan anak-anak di sekitarnya untuk berbicara dengannya, misalnya dengan menjelaskan apa yang Anda lakukan bersama-sama ('Sudah waktunya untuk makan siang bersama, Adam?' ), atau apa yang terjadi (" Hari ini indah dan cerah di sini, Ibu akan segera datang ').Ingatlah untuk memberi jeda sehingga anak memiliki kesempatan untuk menanggapi.
Menggunakan ekspresi wajah untuk menyampaikan makna , anak mungkin tidak memahami kata-kata tetapi biasanya mereka akan mengerti artinya, jika mengunakan ekspresi yang jelas. Misalnya, jika seorang anak mengambil sebongkah tanah di kebun atau pekarangan rumah untuk dimakannya, Anda pasti akan menepisnya sambil mengatakan jangan dimakan itu kotor. Dia mungkin tidak tahu apa artinya kotor, tetapi jika pada saat yang sama, Anda juga mengernyitkan wajah Anda dan menjulurkan lidah untuk menunjukkan rasa menjijikan, anak akan memahami makna Anda dengan cukup jelas. Kebanyakan orang dewasa melakukan hal ini secara alami ketika berbicara kepada anak-anak.
Membaca dan bercerita, Anda dapat memberitahu kepada mereka secara lisan atau membaca buku-buku cerita untuk mereka. Selama menceritakan kisah Anda, mereka dapat meningkatkan imajinasi mereka dan mungkin menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, mereka akan belajar lebih banyak tentang bagaimana mengatakan sesuatu kepada orang lain di sekitar mereka. Mereka juga akan belajar tentang bagaimana untuk memulai sebuah cerita, bagaimana mengungkapkan perasaan mereka dan sebagainya.
Interaksi sosial, berinteraksi akan memberikan pengalaman dan kesempatan kepada anak untuk mendengar percakapan dan bertemu orang baru.
Menjadi penghubung, menggunakan bahasa yang lebih  jauh dari sekedar belajar kata – kata, anak juga perlu belajar berbagai macam keterampilan cara berbicara dan berkomunikasi, seperti memahami bagaimana percakapan itu bekerja. Ini dikenal sebagai keterampilan pragmatis.

Penanganan kesalahan,  Anak-anak membuat banyak kesalahan dalam bicara mereka. Mereka sering

menggunakan tata bahasa yang tidak benar dan mereka salah mengucapkan kata-kata mungkin karena mereka

mengalami kesulitan dalam membuat suara yang benar. Mereka mengganti kata yang sulit bagi mereka menjadi kata

yang  lebih mudah, contoh 'lu' misalnya untuk 'ru',  'la' untuk 'ra'. Kesulitan seperti ini biasanya diatasi sendiri oleh

anak pada saat usia 5 atau 6 tahun. Sangat penting untuk mengatasi kesalahan tersebut dengan cara

yang positif jika Anda ingin meningkatkan kepercayaan diri anak. Hindari koreksi langsung dari

kesalahan. Yakinkan anak bahwa Anda telah memahami apa yang sedang ia coba untuk memberitahu

Anda dan juga mengajarinya bagaimana mengatakan kata tersebut dengan benar.
Empat Fase Pengembangan Anak Usia Dini

Empat Fase Pengembangan Anak Usia Dini

Jurnal Harian - Memiliki anak dalam kehidupan seseorang bisa menjadi hal yang paling membahagiakan sekaligus menakutkan. 

Anda tidak hanya memastikan bahwa anak kecil ini harus memiliki semua kebutuhan hidup, seperti makanan, tempat tinggal dan pakaian, tetapi Anda juga harus menjaga bahwa anak kecil ini dapat tumbuh menjadi anggota keluarga yang baik dan berguna bagi masyarakat.  

Ok, jadi apa artinya? Bagaimana kita memastikan bahwa anak-anak kita tumbuh menjadi anggota yang berkontribusi dengan baik dan berguna bagi masyarakat?
 
Kesejahteraan
Dengan memelihara kesejahteraan mereka, Anda akan mengembangkan kepercayaan diri mereka, yang akan mengarah ke perasaan bahagia dan anak-anak tumbuh sehat. Bermain adalah salah satu cara untuk mencapai ini. Ketika memilih mainan Anda harus mempertimbangankan bagaimana cara mereka mengunakannya dan apakah mainan tersebut memiliki efek untuk perkembangan motorik kasar, motorik halus, bicara, visi, pengolahan sensorik, social dan emosional mereka. Anak-anak menggunakan mainan untuk belajar tentang lingkungan mereka. Mereka mencapai kesuksesan setelah menemukan apa yang akan atau tidak bekerja dan ini pada akhirnya mempengaruhi rasa percaya diri dan kesejahteraan mereka.
Identitas dan milik
Rasa identitas dan milik seseorang adalah bagian penting dari kepribadian seseorang. Anak-anak berusaha untuk menemukan jati diri mereka. Mereka perlu merasa mereka berada dan memiliki sesuatu untuk diberikan kepada lingkaran sosial mereka termasuk keluarga mereka. Ketika mereka tidak bisa menyalurkan kegiatan positif mereka , anak-anak akan memiliki rasa terdistorsi dan menyimpang dari jati diri mereka sendiri. Ini mungkin membuat dirinya mempunyai sifat yang suka mengganggu yang berdampak negatif dalam dunia pribadi mereka. Rasa kebersamaan keluarga dan keterampilan sosial dipupuk dengan mainan interaksi keluarga seperti permainan berkelompok, bermain berdandan dan kegiatan olahraga.
Berkomunikasi
Keterampilan komunikasi adalah penting bagi semua anak-anak termasuk bicara dan bahasa. Tanpa keterampilan ini, mereka tidak akan pernah mencapai potensi yang maksimal. Penelitian telah menunjukkan bahwa 1 dari 10 anak-anak memiliki beberapa kesulitan dengan komunikasi. Identifikasi awal dari masalah ini sangat penting, sehingga bantuan yang tepat dapat diberikan kepada mereka untuk mengatasi rintangan dan mencapai potensi maksimal mereka.
Bermain dengan anak Anda adalah hal yang paling penting yang dapat Anda lakukan untuk membantu mereka mengembangkan bahasa dan kemampuan komunikasi. Mainan merupakan salah satu  cara untuk memulai interaksi tapi apa yang Anda lakukan dengan itu adalah yang lebih penting. Tidak peduli berapa usia anak Anda, pastikan mainan melibatkan interaksi!
Menjelajah dan berpikir
Anak-anak mengunakan indra mereka untuk melihat dan merasakan apa yang mereka alami sehingga bisa masuk ke akal pikiran  dan tubuh mereka. Mereka mengumpulkan info dan mengembangkan keterampilan baru, yang memungkinkan mereka untuk membentuk ide-ide dan teori-teori dan menguji hal tersebut.  Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak lain serta eksplorasi lingkungan mereka memungkinkan mereka untuk menumbuhkan ide-ide.
Bermain adalah salah satu kendaraan yang memungkinkan anak-anak untuk menjadi kreatif, mengambil risiko, dan membuat penemuan. Mereka belajar mengeluarkan ide lebih banyak dan teori-teori yang disesuaikan untuk mendapatkan lebih banyak penemuan dan pengalaman baru. Mainan adalah alat masa kanak-kanak dan dengan demikian, orang tua harus membantu mengeksplorasi mainan yang tersedia yang paling cocok dan memiliki banyak manfaat dalam membantu anak-anak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan cinta, kekaguman, dan penemuan.
 

Minggu, 13 Januari 2013

Tips Mendisiplinkan Anak

Tips Mendisiplinkan Anak

Jurnal Harian - Kedisiplinan pada dasarnya adalah daya tahan atau KELANGGENGAN sebuah peraturan di jalankan oleh anak kita. Sedangkan peraturan tersebut dapat berupa instruksi lisan atau tertulis.
Banyak orangtua yang merasa puas dan merasa berhasil mendisiplinkan anaknya jika anaknya sudah ‘KETAKUTAN’, ‘menurut’ dan melaksanakan semua peraturan yang sudah diberlakukan oleh orangtua. Anak yang ketakutan dan menjadi penurut apa yang diperintahkan oleh orangtua memang masih menjadi indikator keberhasilan disiplin.

Namun apa benar demikian?

Coba bandingkan dua kondisi di bawah ini.

Kondisi pertama, sebut saja si Iza, seorang putri cantik sekolah di TK yang centil, Iza diperingati oleh mamanya dengan cara yang keras, penuh tekanan dan ancaman untuk tidak membeli makanan (jajan) di sekolah sebab tidak sehat. Dengan penuh ketakutan Iza mengangguk-angguk tanda setuju terhadap peraturan tersebut. Sampai detik terakhir berpisah, sang mama tersebut sempat memberi peringatan disiplin kepada anaknya. “Inget lho pesen mama ya…jangan jajan, awas kalo ketahuan, mama hukum nanti.” Apa yang terjadi ketika Iza sudah di sekolah dan melihat teman-temannya ramai-ramai membeli jajan. Iza ragu-ragu untuk mendekat. Takut ancaman dari mamanya. Tiba-tiba seorang temannya mengajak Iza untuk ikut membeli jajan. Spontan Iza menolak. “Gak boleh ama mama.” Si teman tidak mau kalah. “Mamamu kan gak ada sekarang, jadi gak mungkin tahu, ayo … enak lho jajannya!” Iza langsung menoleh ke kanan ke kiri, begitu dia yakin mamanya tidak ada di sekitarnya, maka dengan senyum bahagia Iza menuruti temannya untuk membeli jajan yang telah dilarang oleh mamanya. Dalam kondisi seperti Iza rapuh dalam kedisiplinannya. Iza masih DAPAT DIPENGARUHI OLEH LINGKUNGANNYA. Disiplin seperti ini adalah disiplin yang tidak berhasil.

Kondisi kedua, Ela didudukkan dengan manis oleh mamanya, dan diberitahu kalau jajan di luar itu tidak sehat. Jenis-jenis jajanan yang tidak sehat juga diberitahukan oleh sang mama, bahkan ditulis atau ditunjukkan bungkus makanannya. Lalu Ela mendapat informasi juga dari mamanya kenapa makanan/jajan ini tidak sehat. Sang mama memberitahu juga akibat ekstrem apabila anak-anak sering makan jajanan tersebut. Penyakit yang mungkin timbul, penderitaan anak pada saat sakit, kesulitan orangtua pada saat anaknya sakit, dan lain-lain. Bahasa yang disampaikan kepada anak juga lembut, santun dan sangat informatif. Tidak ada paksaan dan dilakukan dalam kondisi si anak santai atau dalam kondisi ‘alfa’. Apa yang terjadi pada saat Ela berada di sekolahnya dan teman-temannya merayu Ela untuk jajan yang sudah di larang oleh mamanya. Ela dengan santainya menjawab, “Aku gak boleh jajan itu ama mamaku, sebab kata mamaku jajanan itu gak sehat, bisa sakit, aku sudah diceritain susahnya kalo sakit, ihhh sedih gitu. Kamu juga kalo bisa gak usah beli jajanan itu. Kalo jajanan yang ada di kantin sekolah itu baru sehat. Kalo di luar ini tidak sehat.” Lalu beberapa teman Ela melongo, mengangguk-angguk dan mengikuti nasihat Ela. Dalam kondisi seperti ini Ela MAMPU MEWARNAI LINGKUNGANNYA dengan kedisiplinannya. Dan disiplin inilah yang berhasil.

Dua macam keberhasilan disiplin

Ada dua macam keberhasilan disiplin, yaitu:

1. Disiplin SEMENTARA

Yaitu upaya disiplin yang mempunyai rentan waktu sementara, setelah itu disiplin akan hilang. Kasus Iza adalah termasuk disiplin sementara. Iza berjanji akan menuruti perintah orangtuanya pada saat keberadaan orangtuanya ada di sekitarnya. Begitu di luar itu, disiplin akan hilang. Penyebab disiplin sementara ini antara lain:

a. Model pemberian peraturan kepada anak yang salah.

Anak usia golden age (0 sampai 7 tahun) model pemberian aturannya dengan learning by doing dan learning by example. Artinya anak belajar disiplin dengan cara melihat perilaku orangtuanya dan mengambil contoh atau teladan dari orangtuanya. Apabila dua hal penting ini tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi peraturan anak, maka secara otomatis anak akan menghindari kedisiplinan.
Anak usia 8 tahun ke atas, peraturan dibuat dalam model-model peraturan tertulis, lisan dengan berbagai macam format yang sangat luwes.
b. Cara pemberlakukan peraturan kepada anak yang salah.

Cara pemberlakuan disiplin yang terlalu bebas, akan mengakibatkan kekuatan peraturan untuk ditaati menjadi lemah. Peraturan yang sudah dibuat sama sekali tidak efektif. Anak tidak akan menghargai peraturan apapun yang berasal dariu orangtuanya dan orang lain.
Cara pemberlakuan disiplin yang terlalu keras dan kaku, juga akan berdampak negatif pada anak. Perasaan tertekan, takut, anak mudah kehilangan kepercayaan diri, tidak punya peluang untuk tumbuh dan berkembang, kepribadian, emosi, akhlak dan rasa kemanusiaannya niscaya tidak akan terbentuk. Selain itu potensi dan bakatnya tidak akan muncul.
Cara pemberlakukan disiplin yang seimbang. Anak diberi pendahuluan pengetahuan kenapa harus ada peraturan yang dimaksud. Peraturan hanya membatasi dan mengatur kebebasan anak. Anak diberi kesempatan untuk menentukan pilihan-pilihan. Dengan disiplin yang seimbang ini, maka anak akan tumbuh menajdi pribadi yang berkembang, bertanggung jawab, menghargai orang lain dan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.
c. Tidak adanya apresiasi ketika disiplin tersebut telah dijalankan oleh anak.

Setiap anak yang melakukan upaya disiplin seyogyanya orangtuanya memperhatikan hal itu dan memberikan respon berupa apresiasi.
Apresiasi dapat berupa pujian terhadap perbuatan disiplinnya, sentuhan emosi positif, seperti memeluk, mencium, mengusap rambut dan lain-lain.
2. Disiplin PERMANEN

Yaitu upaya disiplin yang mempunyai rentan waktu relatif panjang. Kasus Ela adalah disiplin yang permanen. Disiplin inilah yang berhasil. Anak mempunyai kedisiplinan internal dalam dirinya. Bahkan mampu menjelaskan kenapa harus disiplin dan mampu menarik orang lain untuk juga melakukan upaya disiplin

Nah … para orangtua, seyogyanya kita semua dapat melihat atau melakukan cek, apakah disiplin yang kita terapkan kepada anak kita termasuk yang SEMENTARA atau TETAP. Perilaku kita sebagai orangtua dalam menerapkan disiplin kepada anak ternyata menjadi kunci utamanya. Semoga menajdi pengetahuan yang berguna.

(Diambil dari posting ayah & bunda fata di Jumat, April 17, 2009)

sumber : catatan-ngajar.blogspot.com

Sabtu, 15 Desember 2012

Bagaimana Menjelaskan Isu Kiamat 2012 ke Anak?

Bagaimana Menjelaskan Isu Kiamat 2012 ke Anak?

Bagaimana Menjelaskan Isu Kiamat 2012 ke Anak?
Ilustrasi kiamat 2012. end-2012.com
Jurnal Harian - Jakarta - Rumor kiamat yang terjadi pada 21 Desember 2012 terus berembus di penjuru dunia. Kehancuran dunia berdasarkan ramalan bangsa Maya itu telah membuat banyak orang takut dan bingung dalam mempersiapkan kiamat. Lalu, bagaimana orang tua menjelaskan kabar kiamat yang tinggal beberapa hari ini?

Pemerintah Amerika dan lembaga antariksa (NASA) menerima banyak pertanyaan. Apakah ramalan itu itu akan terjadi dan apa yang harus dilakukan? Tak hanya dari orang dewasa, pertanyaan juga berasal dari anak-anak.

Pemerintah Amerika Serikat, melalui situs http://kids.usa.gov, memberikan tip untuk menjelaskan ramalan kiamat. Situs ini meyakinkan ke orang tua bahwa apa pun argumennya, yang jelas kiamat tak bakal terjadi pada 2012.

Kalau kewalahan dengan pertanyaan anak, orang tua bisa "belajar" lebih dulu di situs NASA. Ada juga video yang menjelaskan secara ilmiah dan meyakinkan bahwa 21 Desember 2012 hanya hari biasa, seperti hari lainnya.

Ramai isu kiamat muncul dengan berakhirnya kalender bangsa Maya pada 21 Agustus 2012. Banyak yang menerjemahkan penghabisan masa kalender itu dengan akhir dunia. Suasana semakin dramatis ketika ada kisah tentang kemungkinan meteor menabrak bumi. Sejumlah orang telah menyiapkan tempat penyelamatan.

Berikut ini tip untuk menghadapi rumor yang mungkin bisa mengakibatkan anak takut.
1. Coba bicara serius dan abaikan rasa takut. Jangan berkomentar konyol atau mengatakan santai saja, tak ada masalah. Kalau anak memperlihatkan ketakutan, coba duduk bersama dan berdiskusi. Sikap seperti ini menunjukkan Anda, sebagai orang tua, mau mendengarkan masalah anak.
2. Pelajari apa yang menjadi ketakutan anak. Ini akan membuat orang tua lebih percaya diri untuk membahas diskusi berdasarkan fakta, bukan rumor.
3. Bantu anak melakukan riset tentang kiamat 2012. Arahkan anak untuk mencari informasi sahih dari sumber yang bisa dipercaya.
4. Coba ambil alih rasa khawatir anak. Mulai sekarang, biar ayah/ibu yang akan mencari tahu dan kamu tak perlu khawatir.

Sumber : Tempo.co

Selasa, 23 Oktober 2012

Rajinlah Menjawab Jika Anak Bertanya ?Inilah Alasannya

Rajinlah Menjawab Jika Anak Bertanya ?Inilah Alasannya


Selalu ingin tahu. Anda kerap frustrasi dan kesal dengan pertanyaan "mengapa". Memang begitu. Tuhan menciptanya juga sudah begitu. Mungkin itu jawaban Anda atas pertanyaan balita empat tahun, Mengapa bintang ada di atas? Mengapa kuku kucing tajam? Mengapa ada angin? dan seterusnya. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini, Anda frustrasi karena dua hal. Pertama, Anda tidak tahu jawaban sebenarnya. Kedua, Anda bingung menyusun kalimat sederhana yang dapat dimengerti anak. Akar dari rasa frustrasi ini adalah kesalahpahaman Anda terhadap bahasa anak, dan Anda berpikir ketika anak bertanya mengapa, sama seperti orang dewasa bertanya "mengapa". Jawaban sebab-akibat yang Anda berikan kepada anak pun jauh dari tujuan, dan anak pun gagal terpuaskan.

Pahami bahasa anak. Saat lahir, satu-satunya cara anak berkomunikasi adalah dengan menangis. Ia menggunakan bunyi yang sama untuk mengatakan "saya lapar", "saya bosan", "popok basah nih" dan "Ibu, sini dong." Keajaiban terjadi saat Anda mulai paham makna tangis bayi, dan menandai setiap tangisannya adalah untuk mengekspresikan kebutuhan dan keinginan berbeda. Ibarat dua penari yang masih canggung pada awalnya, Anda dan anak kian mahir dalam saling memahami. Saat anak mulai belajar berkata-kata, kata-kata belum digunakan secara tepat seperti halnya orang dewasa. Ketika anak mengatakan "anjing", yang dimaksud adalah semua binatang. Tetapi, dengan berkembangnya keterampilan anak bicara, ia berbicara seperti orang dewasa. Ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya rasa ingin tahu balita.

Bertanya terus. Anak-anak sangat ingin tahu mengapa segala sesuatu terjadi. Pertanyaan "mengapa" yang mereka ajukan sebenarnya bagian dari perkembangan perbendaharaan katanya. Sejak usia tiga tahun, anak menunjukkan kehausannya untuk memahami dunia sekitar. Ia sangat ingin berkomunikasi. Anak usia ini juga sangat termotivasi untuk belajar. Kata "mengapa" bukan semata untuk memperoleh informasi, tetapi juga untuk berkomunikasi. Di usia empat tahun, kata "mengapa" langsung dikaitkan dengan sesuatu seperti, "Mengapa anjing menggonggong?" Yang ada dalam pikiran anak saat ia bertanya "mengapa" adalah "Wah, menarik sekali. Ceritain dong, anjing itu apa?" Anak-anak usia ini tidak butuh penjelasan sebab-akibat. Mereka hanya butuh perhatian dan ingin Anda bercerita apa saja tentang sesuatu yang ditanyakan.

Menambah perbendaharaan kata. Pertanyaan "mengapa" yang terus-menerus memang melelahkan. Anda kerap berharap "mengapa" itu segera berakhir. Meski begitu, Anda tetap perlu sabar. Menjawab pertanyaan atau sekadar bercerita tentang topik yang diajukan anak merupakan "makanan" bagi rasa ingin tahunya. Jawaban-jawaban Anda juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu anak dan memberi pemahaman lebih baik tentang arti kata.